Jumat, 05 Desember 2014

TRAVELLING dan PHOTOGRAPHY



 http://cdn.kaskus.com/images/2013/06/22/1140687_20130622081726.jpg
TRAVELLING  dan PHOTOGRAPHY adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, banyak orang bepergian hanya untuk sekedar bersenang-senang dan membawa pulang foto-foto dokumentasi pribadi yang didalamnya terlihat mereka sedang berpose.
Sebaliknya dewasa ini banyak juga penghoby photography yang melakukan travelling keliling Indonesia bahkan keluar negeri untuk membuat foto – foto travel serius untuk pekerjaan atau untuk koleksi pribadi mereka.
Dan buat kawan-kawan yang ingin lebih mendalami Travel Photography, ada beberapa tips dasar yang menurut saya penting berdasarkan pengalaman saya selama memotret ke beberapa negara .
Berikut ini adalah tips membuat foto traveling lebih menarik :

1. Riset.
Pelajari sebanyak dan sedetail mungkin tentang kota/daerah tujuan kalian, makin banyak informasi yang kalian dapatkan makin bagus foto yang akan kalian hasilkan

2. Kenali Sifat Cahaya.
Cahaya terbaik untuk memotret berbagai macam obyek adalah di saat golden-hour sesaat setelah sunrise dan sebelum sunset. Bangunlah sepagi mungkin untuk mendapatkan kesempatan memotret di kondisi cahaya seperti ini.

3. Mengenal Fungsi Kamera.
Jangan sia-siakan waktu travelling kalian yang mahal hanya untuk mencoba-coba kamera, lensa atau peralatan barumu. Persiapkan dan pelajarilah itu semua sebelum kalian bepergian.

4. Pilih Lokasi Penginapan yang Tepat.
Lokasi menginap di tengah kota akan jauh lebih menguntungkan dibandingkan di pinggiran, karena biasanya dekat dengan obyek-obyek menarik serta menghemat waktu, terutama untuk pemotretan di pagi hari.

5. “Hello”.
Hello adalah ucapan universal yang bermakna menjaga keramahan, berusahalah untuk mengucapkannya disaat akan memotret orang .

6. Referensi Foto.
Carilah berbagai referensi foto dari berbagai fotografer yang pernah mengunjungi daerah tujuan kalian, untuk mendapatkan inspirasi atau ide-ide baru, bukan untuk memotret sama persis seperti yang mereka telah lakukan.

7. Rasakan dan Nikmati.
Disaat travelling, fotografi bukanlah segala-galanya, cobalah mencicipi berbagai makanan setempat, kunjungi pasar tradisional, nikmati musik setempat,.. niscaya kalian akan lebih memahami tentang kultur dan cerita sejarah mengenai tempat itu dan membantu kalian untuk menemukan “feel” fotografi terhadap berbagai obyek disana.

8. Travelling dengan Nyaman.
Jangan berpikir untuk membawa seisi “drybox” kalian selama travelling, ingat “you can not capture anything“, menghasilkan foto-foto baru yang inspiratif tidak harus disertai oleh peralatan yang canggih dan lengkap, ide dan kreatifitas lebih banyak bermain di sini. Hanya kelelahan dan kebingungan yang akan terjadi apabila kalian membawa terlalu banyak peralatan.

9.  Lokasi dan Sudut Baru.
Berusahalah untuk keluar dari “jalur umum” yang biasa dilalui para turis, temukan tempat di sekitar lokasi yang lain dari biasanya, entah itu lorong, bangunan dan lainnya, alhasil foto kalian akan berbeda dari foto-foto klise lainnya.

10. Santai Sejenak.
Waktu kalian saat travelling sangat terbatas, tidak usah berusaha untuk melihat semuanya dalam sekejap, itu adalah hal yang mustahil. Tidak usah terburu-buru, nikmati tiap tempat yang bisa kalian kunjungi, dengan begitu kalian punya banyak waktu untuk menghasilkan foto – foto yang jauh lebih baik.

11. Transportasi.
Apabila lama waktu travelling kalian memungkinkan, untuk tujuan dari kota ke kota gunakanlah bus atau kereta api , kalian akan lebih dapat menikmati suasana sekitar dan mungkin bisa berinteraksi dengan penduduk local .

12. Kejelian.
Kemanapun kalian jalan – jalan, temukan keindahan dan keunikan tempat tersebut , belajarlah melihat sekeliling , perhatikan elemen-elemen yang dapat memperkuat komposisi serta menjadi bagian pendukung dari frame di viewfinder kita. “if you can’t see it, you can not capture it“.

13. Hormat dan Santun
Perlakukan obyek foto kalian seperti kalian juga ingin diperlakukan oleh orang lain. Sapalah atau mintalah ijin mereka sebelum kalian memotret, jangan memaksa atau “mencuri” jepret apabila orang tersebut memang tidak ingin kalian potret. Apabila kalian berjanji untuk mengirimkan foto ke orang tersebut, berusahalah untuk menepatinya.

Candi Jawi VS Candi Gunung Gangsir



Candi Jawi
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6EHfHsIIiMpwN-pkhYAwaupxR6eIyEGH2oVMNiLuRInq5nHAKI5dEfEaVeiIuoQpMXOAseNppafIjq2fGA_6VJpp74GxCoqdfwrYrRPEzIc3rF7S57G7SYUOcZX4ADStYhncTxVBQIAk/s1600/Candi_Jawi.jpg
Candi Jawi adalah candi yang dibangun zaman Kertanegara, Raja terakhir Singasari, sekitar abad ke-13. Letaknya di desa Candi Wates, Tretes, Pandaan, Prigen, hanya 40 menit dari Surabaya. Arsitektur Candi Jawi perpaduan Hindu dan Budha. Bagian puncaknya berupa stupa. Candi Jawi dibangun dari batu andesit. Tinggi Bangunan Candi 24,50 meter, panjang 14,20 meter dan lebar 9,50 meter.

Candi Jawi merupakan tempat pedharmaan atau penyimpanan abu dari Raja Kertanegara. Seluruh kompleks Candi Jawi terhampar di atas lahan seluas 40 x 60 meter persegi serta dikelilingi pagar bata setinggi dua meter. Bangunan candi dilindungi parit yang banyak dihiasi oleh bunga teratai. Bentuk candi berkaki Siwa dan berpundak Buddha dengan ketinggian sekitar 24,5 meter dengan panjang 14,2 m serta lebar 9,5 m.

Candi Jawi sendiri dipugar untuk kedua kali pada tahun 1938-1941  pada masa pemerintahan Hindia Belanda karena runtuh. Perbaikannya dilakukan kembali tahun 1975-1980 dan diresmikan tahun 1982. Sayang, arca-arca peninggalan yang ada di Candi Jawi kini telah hilang lantaran telah dipindahkan ke Museum dan sebagian ke tempat-tempat komersial.

Untuk melestarikannya, pada setiap malam bulan purnama, di komplek candi jawi diadakan Pentas Seni Bulan Purnama yang mempertunjukan seni tari tentang kisah Legenda asal muasal Candi Jawi.
Dalam tarian tersebut, diceritakan tentang seorang Puteri Bali yang sangat cantik. Namun karena kecantikannya ia terpaksa kabur dan tinggal menetap di jawa. Pasalnya, banyak raja-raja yang berkeinginan untuk mempersuntingnya sebagai permaisuri.

Candi Gunung Gangsir
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnj40TPpAtknaU-aT9A6kWPS3UkkDtTHIGOekEkNdlncYTuMkuGkybkv8PBDzH34TY6KJpYQkzQ6E7ZoEuETRztq8Eh_xiLMdzudBoLLiWEaR1XROyQFUcV0IedR0GU5YlHkzjXKU2Ols/s400/DSC02746.JPG

Candi Gunung Gangsir sering disebut Candi Kebon Candi karena terletak di Dukuh Kebon Candi, Desa Gunung Gangsir, Beji, Pasuruan. Kata ‘gangsir’ berarti menggali lubang di bawah permukaan tanah. Konon dulu ada orang yang berusaha ‘menggangsir’ gunung ini untuk mencuri benda-benda berharga di dalam bangunan candi ini.

Candi Gunung Gangsir dibangun dari batu bata ini. Keseluruhannya ada empat lantai, dengan dua lantai dasar yang menjadi tubuh dan atap candi. Denah lantai dasar merupakan segi empat dengan sebuah tonjolan pada sisi timur, berlawanan arah dengan keletakan tangga. Denah tubuh dan atap candi juga segi empat, tetapi pada bagian ini keempat sisi dinding tubuh candi memiliki sebuah bidang tonjolan yang ramping.

Sekarang kondisi candi berupa runtuhan, dan hampir semua sudut pada lantai-lantai dalam keadaan rusak, begitu juga pada bagian-bagian yang horisontal, tempat bertemuya lantai-lantai tersebut, sedangkan bagian puncak candi telah hilang. Akibat kerusakan ini, bangunan candi Gunung Gangsir tampak seperti bentuk piramida yang telah terpotong bagian atapnya.
Konon candi Gunung Gangsir dibangun pada masa pemerintahan Raja Airlangga, yaitu sekitar abad ke-11 M.

AIR TERJUN EKSOTIS DI KECAMATAN PRIGEN PASURUAN



Pasuruan memang kaya akan potensi wisata alamnya. Dari sekian wisata, air terjun merupakan pilihan destinasi  wisata alam yang layak untuk disinggahi ketika berada di Pasuruan.Berikut ini adalah air terjun eksotis yang terdapat di Kabupaten Pasuruan tepatnya di Kecamatan Prigen, mungkin sangat sayang untuk dilewatkan jika Anda sedang berada wilayah Kabupaten Pasuruan.

Air Terjun Putuk Truno

                                                                                                         
Air Terjun Putuk Truno memiliki ketinggian air sekitar 45 m dan berada kaki Gunung Welirang dan Arjuno. Air Terjun berada kawasan wisata Tretes dan berjarak hanya sekitar 400 m dari Air Terjun Kakek Bodo.

Konon, nama air terjun ini diambil dari mitos seseorang yang bernama Joko Truno, seseorang yang bertapa disekitar lokasi air terjun hingga menjelma menjadi ular (Putuk).

Berjarak sekitar 55 km ke arah selatan kota Surabaya. Dari pintu masuk utama yang berada di jalan Putuk Truno Pringgen, sekitar 500 m dari jalan raya Pandaan – Tretes. Kondisi jalan ini menanjak hingga menuju pos masuk. selanjutnya dari pos masuk ini perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuruni jalan setapak kurang lebih 300 m hingga mencapai lokasi air terjun. Jalan setapak ini sudah dibeton dan dibuatkan undak-undak hingga memudahkan pengunjung datang.